Olah pikir, olah rasa, olah kata

Tangis Bahagia Anak Cimit

Ada aura yang sangat kontras saat pulang kerja sore itu.  Tak sabar, ingin mengucapkan tahniah dan memeluknya. Terlihat wajah anak cimit ini begitu haru biru dan emosional dengan aroma bahagia saat melihat ayahnya datang. Jadilah hati ini kembali basah, mata berkaca-kaca, mengingat tekad, usaha, dan mungkin beban psikologisnya terutama menjelang pengumuman kelulusan.

Pagi hari, sebelum berangkat, kembali memeluknya, memberikan sedikit ketenangan bahwa apapun hasilnya nanti, Insya Allah itu adalah jalan terbaik. Meyakinkan kembali bahwa Allah SWT adalah perencana yang sangat baik. Tinggal menemukan, mengikuti dan mengeksekusi peta jalan-Nya untuk kita. Bukankah, kejadian-kejadian yang dialami selama ini ada benang merahnya dan telah menunjukkan bahwa segala sesuatunya sudah di atur yang Maha Kuasa. Begitulah kira-kira bisikan yang saya sampaikan. Mungkin tidak membantu sepehuhnya, tetapi setidaknya mengurangi suasana kegundahan dan keresahan yang tidak bisa disembunyikan.

Sangat wajar, karena beban, kegundahan, dan keresahan yang sama pernah dialami 31 tahun yang lalu. Apalagi disaat pilihan hanya difokuskan pada satu institusi saja. Waktu itu, entah mendapat dorongan darimana, akhirnya memutuskan untuk tidak mengambil kuliah melalui jalur undangan. Padahal peluang lulusnya sangat besar. Alasannya, karena kampus yang mau dituju tidak menawarkannya. Jadilah fight melalui jalur ujian, karena itulah satu-satunya jalan ke pilihan yang dimau.

Entah tekad yang terlalu bulat atau cinta buta, saat itu belum ada opsi institusi lain atau plan B, seandainya hasil tidak sesuai harapan. Akibatnya, tekanan menjadi lebih dahsyat. Apalagi kelulusan juga bisa gagal karena masalah lain. Pensil 2B tidak asli, bulatan tidak proper, kode ujian salah, atau lembar jawaban yang tidak terbaca scanner. Dan ternyata anak bungsu memilih jalan ninja ini juga. Saya, ibunya dan kakaknya, mungkin agak mendingan, karena ada alternatif pilihan walau di institusi yang sama. Anak cimit hanya memilih satu program saja. Kami pernah memberikan pandangan tentang opsi-opsi sebagai bagian dari mitigasi. Tapi azzam sudah dipatri, tekad sudah dinyalakan, maka perjuangkanlahlah citamu.

Mengarungi episode perjalanan menjemput mimpi, ternyata tidak luput dari drama-drama yang syarat dengan air mata, emosi, dan beban tersendiri. Beberapa kali menangis karena capaian dan prestasi yang kadang up and down, tidak sesuai dengan ekspektasi. Pemetaan pemilihan program yang sudah dibuat di awal ternyata ambyar menjelang penetapan akhir. Nlai dan prestasi mungkin cukup, tapi bukan yang terbaik di sekolah. Sehingga resiko disalip sangat mungkin terjadi. Dan ini memang benar-benar nyata. Malam itu, wajahnya kembali muram dan menangis, kelihatannya sangat terpukul.  Menjelang putaran akhir, apa yang dikhawatirkan itu terjadi. Di program yang dipilih, dia ternyata dihimpit oleh temannya.

Ada perasaan kecewa tampaknya, tapi kami bilang tidak boleh. Semua orang punya hak untuk menentukan pilihannya. Kita tidak punya kuasa untuk itu. Pilihannya cuma dua, tetap dengan yang pertama atau kita kembali reviu lebih dalam, jangan-jangan ada pilihan yang lebih pas. Tidak hanya sekedar keinginan untuk kuliah di satu tempat, tetapi lihat juga aspek lain seperti rekam studi selama ini serta hasil tes minat dan bakat yang ada. Alhamdulillah, Allah Maha Baik, dengan hikmah-Nya telah menunjukkan jalan yang tepat. Kejadian ini menjadi pengingat, mendorong kami berefleksi, mengevaluasi dan mempelajari lebih dalam tentang potensi, minat, serta kondisi psikologi anak ini.

Kami coba melihat beberapa program studi yang paling matching dengan prestasi akademik tapi tidak melenceng dengan minat anak bungsu ini. Dengan wasilahnya-Nya kamipun dapat bersilaturahmi dan berdiskusi delapan mata dengan guru BK yang membimbingnya. Pertemuan ini begitu penting karena semakin memberikan kekuatan dan keyakinan bahwa pilihan program baru yang dipilih adalah cocok dilihat dari berbagai aspek yang jadi pertimbangan.

Hari itu, dengan perasaan lebih lega menghantarkan anak bungsu menetapkan pilihannya. Pesannya satu saja, dari usaha yang sudah dilakukan, kejadian-kejadian yang dialami, kita tinggal yakin bahwa sesuatunya kita kembalikan kepada yang Maha Pengatur. Kita tinggal bertawakal dan berdoa. Satu hal yang membuat kami haru biru adalah ternyata untuk urusan doa, anak cimit ini juga bergerilya bahkan sampai menjelang detik-detik pengumuman kelulusan. Selain doa orang tua yang selalu dia minta, belakangan baru tahu bahwa anak ini rupanya memohon secara khusus kepada guru-gurunya, kakak-nya, neneknya, saudara-saudara, anak-anak panti asuhan serta teman-temannya. Seakan ingin menegaskan bahwa atas usaha yang sudah diperjuangkan dan dari banyak doa yang dipanjatkan, kita tidak tahu melalui siapa doa dikabulkan.

Satu milestone kehidupan anak cimit sudah dilalui. Alhamdulillah berakhir dengan tangisan bahagia. Selamat menempuh episode kehidupan berikutnya yang tak kalah menantang dan semakin dinamis. Banyak pembelajaran dan hikmah yang didapat khususnya bagi kami dan anak kami. Dan salah satu yang patut disyukuri dan dari sedari awal diyakini adalah bahwa Allah SWT sudah mengatur segalanya. Kita sudah disiapkan pilihan terbaik, tinggal meretas jalannya dan mengisi dengan penuh rasa syukur. Peristiwa yang satu dengan peristiwa lainnya adalah rangkaian yang saling terhubung dan merupakan peta jalan terbaik bagi kita.

Anak cimit, Rizka Ayulia Bilqis yang dulu mau jadi dokter ini, akhirnya diberikan jalan untuk mewujudkan cita-citanya jadi seorang engineer. Mengikuti jejak rumpun keilmuan kaka Azka Syarifa Amani dengan program yang berbeda. Semoga kalian tetap menjadi tim yang solid, saling support, saling melengkapi, dan saling menjaga dalam kebaikan. Tetap rendah hati, tetap tawadhu dan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Di tengah tangis bahagiamu, yang harus dipersiapkan justru adalah mental ayah dan ibu. Kami harus sudah siap mengkonversi kekuatan dan kedekatan lahir serta bathin dengan proporsi yang lebih pas. Ada saatnya mungkin kami akan kesepian. Namun, dukungan dan curahan doa ayah-ibumu akan selalu ada demi keselamatan, keberhasilan serta kebahagiaan kalian. Dimanapun dan kapanpun, semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah dan menjaga kita semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *