Olah pikir, olah rasa, olah kata

Jodohnya Memang Bersama PCR

Satu cerita yang tidak dipisahkan dari institusi PCR adalah tentang jodoh. Satu kata ini mungkin menjadi salah satu kekuatan utama PCR tetap berdiri dan berkembang. Betapa tidak, saat penjelasan program training dan magang beberapa hari setelah penetapan calon pengajar dan instruktur PCR, di salah satu ruang Career Development Center ITB, seorang teman bertanya saat itu, apakah boleh menikah saat magang?

Sesuatu yang mungkin tidak terpikirkan oleh kami pada saat itu.

Di saat yang lain diskusi menanyakan tentang pekerjaan, magang, hak, kewajiban dan lainnya, teman ini menanyakan boleh tidaknya menikah selama masa magang. Sebuah pertanyaan yang jauh ke depan dan sangat berani. Bayangkan, di saat PCR masih belum jelas, masih samar-samar serta uang saku hanya 850 ribu sebulan, ia bertekad dan menetapkan hati bahwa kamu adalah jodohku, selanjutnya dengan dukunganmu kita besarkan PCR.

Di saat meretas jalan dan membangun institusi yang besar tentu saja akan banyak mendapatkan tantangan dan pertentangan batin. Di saat-saat seperti itu, pertemanan dan kebersamaan menjadi modal utama untuk terus berdiri dan berjalan. Bergabungnya beberapa teman tentu akan menambah kekuatan moril dan pijakan, tetapi resign-nya satu teman saja, menjadi goncangan dan isu yang cukup kuat.

Alhamdulillah, kawan itu menikah dengan calonnya yang sama kuliah di ITB beberapa minggu kemudian.  Kami ikut bahagia.

Kebersamaan kami sesama dosen dan instruktur awal di Ciwaruga, tentu saja meninggalkan jejak suka duka. Cerita ini berlanjut ke kisah jodoh berikutnya. Kegiatan magang telah membuat para dosen dan instrukturnya saling berkomunikasi.  Ternyata ada yang sukses besar.  Ada yang sampai berkomunikasi lahir batin.  Bukan hanya seorang, tapi ada beberapa orang.

Ya, cinta lokasi seolah menjadi “kutukan”, terus berlanjut pada generasi-generasi berikutnya. Tidak hanya antar staf pengajar, ada juga staf pengajar dengan tenaga admin, tenaga admin dengan admin, laboran dengan laboran, ada juga staf dengan mahasiswa. Kalau antar mahasiswa, tentu sudah banyak sekali jumlahnya.

Kerja di tempat yang sama, kebanyakan masih pada single, dari pagi sampai sore dan jarang ke luar lingkungan seolah-olah mempersatukan dan menjadi jalan bahwa jodohnya memang ada di PCR. Maka lahirlah pasangan-pasangan dari lingkungan internal berikutnya. Entah benar atau tidak, sempat muncul banyak cerita romatika perjodohan ini. Sebagian besar pasangan yang “cinta lokasi” ini masih bertahan dan saling menguatkan dan menjadi pilar PCR terus berdiri.

Tak heran, bagi keluarga besar PCR, tiga slogan yang paling melekat, disiplin, kebersamaan, dan cinta lingkungan, yang terakhir suka diplesetkan menjadi cinta lokasi.

Dari kisah perjodohan ini, setidaknya, mungkin ini yang menjadi salah satu penyebab PCR menjadi keluarga yang besar. Dari pernikahan antar staf ini, lahir anak-anak yang kami sebut sebagai polykid. Di awal mungkin masih bisa kita ingat polykid berapa, tetapi sekarang sudah susah karena semakin banyak. Belum lagi anak-anak yang lahir dari para alumni yang cinta lokasi, jumlahnya makin banyak lagi. Dalam berbagai kesempatan dan tempat, sudah biasa dipanggil atuk oleh cucu-cucu dari alumni ini, walau ada juga yang panggil om :-).

Sebagai keluarga besar, kami sangat senang, sering berkumpul dalam acara-acara family gathering. Keluarga alumni sering hadir dalam kegiatan homecoming alumni. Sedari dini, anak-anak mereka sering diajak dengan penuh kebanggaan untuk mengunjungi almamaternya. Inilah yang menjadi PCR kuat. Ada hubungan emosional yang kuat, kepercayaan yang tinggi. Tidak heran, jika sebagian besar mahasiswa PCR masuk karena saudaranya, keluarganya, atau relatif-relatif lain yang pernah kuliah di PCR

Terus gimana dengan jodoh saya. Petualangan mendapatkan pendamping hidup, berawal saat magang di Jurusan Teknik Komputer Politeknik Negeri Bandung. Setelah sebulan sebelumnya mengikuti pelatihan filosofi dan metodologi pendidikan politeknik. Karena kampus Polban di Ciwaruga dekat dengan jalan Setia Budi, maka akhirnya saya memutuskan ngontrak paviliun rumah di sekitar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bareng dengan adik yang kebetulan kuliah disana.Dan mungkin sudah jodoh, tempat kontrakan ternyata bertetangga dengan kost-kost-an mahasiswi UPI. Mungkin sudah rezeki, saya dapat kesempatan berkenalan dan mendapatkan salah satu mahasiswi, orang Tangerang, tetangga rumah kost yang juga menjadi kisah yang tak terlupakan. Akhirnya, gadis berkacamata ini menjadi pendamping hidup, menemani perjuangan di perantauan hingga saat ini. Alhamdulillah.