Saya cukup senang bahwa penopang PCR ini berasal dari berbagai institusi. Tidak ada yang mendominasi, sehingga kami punya budaya tersendiri. Sebagian besar dari kami adalah lulusan dari perguruan tinggi berbasis akademik. Untuk itu, setelah workshop metodologi dan memahami filosofi pendidikan politeknik, akhirnya diperdalam dengan magang di institusi politeknik pembina selama 6 sampai dengan 12 bulan, yang dimulai padwa awal agustus tahun 2000. Saya dan beberapa teman dapat kesempatan magang di Politeknik Negeri Bandung, beberapa teman ke ATMI Solo, dan sebagian lagi ke Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Terima kasih untuk Almarhum Pak Bambang Boediono, Almarhum Romo Casut, dan Pak Nuh. Para direktur saat itu yang menerima kami untuk belajar banyak tentang politeknik. Sungguh beruntung kami dapat pengalaman banyak dan ngalap berkah dari institusi pendidikan vokasi terbaik ini.
Kegiatan magang banyak diisi dengan mengikuti proses pembelajaran, supervisi, membuat bahan kuliah, termasuk juga menyiapkan modul-modul praktikum yang akan digunakan. Aktivitas-aktivitas ini tidak lepas dari bimbingan dan arahan dari dosen-dosen yang luar biasa di institusi tempat magang. Sampai saat ini, secara emosional kami sangat dekat, selain sekarang menjadi kolega sesama dosen, ikatan emosional yang sudah terbangun rasanya tidak pernah lekang. Terima kasih untuk para dosen dan tendik di Polban, ATMI, dan PENS yang telah menjadi bagian perjalanan PCR selama ini. Semoga apa yang pernah diberikan menjadi ladang amal jariyah.
Magang di tiga institusi pendidikan vokasi ini seolah tak terasa. Kami yang magang di Bandung dan Solo mulai diberikan sinyal bahwa pada awal tahun 2001 harus siap-siap untuk ke Umbansari, Rumbai, Pekanbaru, tempat dimana PCR berdiri. Tim pengembangan PCR waktu itu mulai melibatkan dosen dan instruktur untuk bergabung dalam penyiapan operasional PCR yang direncanakan mulai berjalan pada tahun 2001. Terus terang perasaan saya pribadi cukup campur aduk. Agak berat karena di usia tiga bulan magang baru saja dapat tambatan hati, lagi sayang-sayangnya :-). Sementara di sisi lain, institusi mulai membutuhkan kontribusi nyata ditambah dengan “promosi” dari status dosen magang menjadi dosen murni dengan kompensasi penuh.

Hari yang dinantikan itu ternyata datang juga. Umbansari-Rumbai dan Pekanbaru yang sebelumnya gak pernah dibayangkan menjadi bahan pembicaraan di keluarga. Referensi yang terbatas, setidaknya membuat kami yang belum pernah menginjakan kaki menyikapi dengan penuh antisipasi. Di benak sebagian kami, inilah tempat asing, belum ada apa-apa, dan jauh kemana-mana. Sehingga tak heran, jika salah satu orang tua dari kami begitu khawatir. Maka, teman satu ini akhirnya dibekali sabun, shampo, sabun cuci dan sejenisnya untuk berjaga kalau di tempat tujuan tidak apa-apa :-).
Awal bulan februari 2001 akhirnya perjalanan ke Pulau Sumatera dimulai. Keberangkatan saya agak delay dua minggu dibandingkan teman lain karena harus “short internship” di PENS. Perjalanan ke Rumbai seolah menjadi proses meyakinkan diri untuk bergabung dengan sebuah institusi yang belum jadi dengan sistem yang belum mumpuni. Hal ini tentu tidak mudah, butuh adaptasi, dan penuh gejolak emosi.
Pindah posisi dari tempat yang sejuk ke destinasi yang cukup panas tentu ada perjuangan tersendiri. Apalagi meninggalkan famili dan sang dewi, sungguh mengiris hati. Petualangan 40 jam, menggunakan bis kramat djati, lintas jawa dan sumatera tentu terasa berat sekali. Tiga hari perjalanan dilalui, hamparan tanah kuning yang menanti. Jauh-jauh datang dengan pengorbanan hati, apa sebenarnya yang dicari. Umbansari begitu sepi. Tanah lapang yang baru dibersihkan seluas 15 hektar, yang belum ada apa-apa dan baru diisi dengan tiang pancang ini seakan berkata, inilah tempatmu berkontribusi, berkhidmat dan mengabdi membangun generasi terbaik sedari dini.

Kondisi emosi yang dinamis pada saat itu seakan mendorong pada satu titik logika bahwa kayaknya tidak akan lama disini. Sering terbesit pikiran untuk kembali, dekat dengan keluarga dan bekerja di tempat yang sudah jadi. Bayangkan, kampus belum berdiri, di depannya hanya kebun rambutan dengan minim penghuni. Cari makan cukup jauh dan susah untuk yang diminati. Begitu hening dan hanya suara binatang jangkrik menjelang sore hari. Jalan sekolah, senapelan, dan plaza citra, itulah tempat-tempat yang cukup menghibur diri.
Ditengah kegalauan yang tinggi, alhamdulillah pikiran baik tetap menyemangati. Dalam situasi yang dinamis, tekad untuk terus berkontribusi, memberikan yang terbaik, dan mengabdi sepenuh hati seolah tidak pernah mati. Seakan mengikuti fitrah saja dan konsisten mengikuti jejak hati, tak terasa 24 sudah menemani PCR ini. Institusi sudah tidak lagi sepi, sudah jadi, dan alhmadulillah sudah bisa unjuk gigi. Banyak sudah mahasiswa dan mahasiswi menetapkan hati untuk belajar dan menempa diri.
Kini, 5678 alumni telah lahir dan berkontribusi di berbagai pelosok bumi. Umbasari tak lagi sepi, berubah jadi destinasi untuk merajut dan mewujudkan mimpi-mimpi
Selalu ada keharuan dan rasa syukur melihat wajah-wajah berseri dari mereka yang berhasil menaikan kualitas diri. Dan inilah hakikat yang dicari, sebuah kebahagiaan yang hakiki.